Gerakan Boikot Haji: Rezim Arab Saudi Kejam terhadap Sesama Muslim

Image
Ilustrasi suasana ibadah haji di Mekah, Arab Saudi | Slate

 Ada yang berbeda dari musim haji tahun ini. Pasalnya, ratusan muslim dilaporkan tengah membuat gerakan pemboikotan pelaksanaan haji. Lewat gerakan online dengan tagar #boycotthajj (boikot haji), kelompok muslim ini menyerukan protes terhadap politik Arab Saudi dengan meminta para muslim dunia untuk tidak melaksanakan haji.

Dilansir dari Reuters pada Jumat (9/8), meski saat ini ada sekitar 1,8 juta umat muslim yang sudah tiba di Makkah untuk melaksanakan haji, tetapi lebih dari 100 muslim yang berasal dari Australia hingga Tanzania tercatat telah memberikan suaranya untuk gerakan #boycotthajj pada platform Twitter.

Menurut pandangan kelompok "boikot haji" ini, Arab Saudi telah dianggap ikut bertanggung jawab terhadap konflik perang saudara yang saat ini melanda Yaman. Tidak hanya itu, pemerintah Arab Saudi dianggap menetapkan peraturan atau perlakuan yang tidak seimbang terhadap wanita, serta sikap pemerintah yang dinilai kurang mendukung hak-hak asasi manusia (HAM).

"BoycottHajj adalah diskusi penting untuk umat Islam. Ini tentang menjadi kritis dan mengakui kekejaman yang dilakukan rezim Arab Saudi terhadap sesama muslim," tulis Mariam Parwaiz, seorang dokter kesehatan masyarakat asal Selandia Baru.

Senada dengan Parwaiz, seorang aakademisi asal Inggris, Ella, menganggap bahwa kewajiban umat muslim yang lebih besar, yaitu berdiri dan melawan ketidakadilan lebih penting daripada menunaikan ibadah haji.

"Itu karena kebijakan luar negeri Arab Saudi serta sifat (pemerintahan Arab) yang represif pada masyarakatnya sendiri yang telah menghentikan saya (untuk naik haji). (Namun) bukan berarti saya mengatakan bahwa saya tidak ingin pergi, saya ingin sekali bisa memenuhi kewajiban agama saya. Tapi jika dalam hal itu, saya turut andil dalam kekerasan, saya tidak akan melakukannya," ucap Ella.

Suara dari kelompok gerakan antihaji tersebut memang patut diperhitungkan. Pasalnya, seperti diketahui, Arab Saudi dan koalisinya telah melancarkan perang ke Yaman sejak 2015. Akibat konflik ini, hampir 80 persen populasi penduduk di Yaman atau sekitar 24 juta orang harus mengandalkan bantuan internasional pada tahun 2019.

Seruan untuk tidak pergi berhaji juga pernah diutarakan tahun lalu oleh Tunisia. Persatuan Imam Tunisia menuding biaya haji telah digunakan pemerintah Arab Saudi untuk membiayai perang di negara-negara muslim seperti Suriah dan Yaman. Kelompok itu menegaskan agar dana haji lebih baik digunakan untuk memperbaiki kesejahteraan warga Tunisia.

Pemerintahan Raja Salman ini juga tengah menghadapi pengawasan ketat dari berbagai pihak terkait dengan pelanggaran HAM yang menimpa jurnalis asal Turki, Jamal Khashoggi. Kemudian terkait dengan isu kesetaraan gender, Kerajaan Arab Saudi memang masih menjadi salah satu negara yang kerap mendapatkan perhatian dunia internasional lantaran masih mendukung kontrol laki-laki dalam berbagai tatanan aspek kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemkot Semarang Gelar Festival Kuliner Depok, Ada 66 Tenda Makanan dan 9 Foodtruck

Festival Kuliner Jalan Depok Semarang Bakal Dirutinkan, Cek Jadwalnya

Semarang Agro Expo 2020 Digelar, Mbak Ita: Hasil Pertanian di Kota Semarang Luar Biasa